Viral Siswa SMP Ngelem, Psikolog: Mereka Korban Jangan di Bully

Viral Siswa SMP Ngelem, Psikolog: Mereka Korban Jangan di Bully

20/06/2019 23:15 0 By Alex

lem (ilustrasi)

Hulondalo.id – Ada 2 dari beberapa oknum siswa SMP di Gorontalo yang mabuk akibat menghirup lem dalam video viral, ternyata sudah pernah menjalani rehabilitasi.

Hal itu diakui tenaga ahli psikolog di Puspaga Kabupaten Gorontalo, Temmy Habibie. Sebelumnya, Puspaga sebagai organisasi yang diinisiasi Dr Fory Nawai selaku Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gorontalo itu hingga kini telah membantu merehabilitasi sekitar 14 anak yang terlibat kasus serupa.

“Ada 2 anak yang dalam video itu pernah ikut terapi. Sayang, hanya salah satu yang aktif, satunya lagi bahkan sempat berhenti. Namun, ada yang disebut dengan PPT (People, Place dan Things) yang bisa memicu ingatan saat menggunakan lem,” jelas Temmy kepada Hulondalo.id, Kamis (20/06/19).

Menurut psikolog Temmy Habibie, beberapa faktor yang menyebabkan para siswa kecanduan ngelem itu diantaranya, recreational use atau social use. Faktor inilah yang mendorong mereka mencoba segala sesuatu, termasuk hal negatif.

Social use ini sendiri merupakan tekanan dari lingkungan atau teman-teman sebaya untuk mencoba hal hal baru, lanjut dia.

“Anak-anak ini membutuhkan sebuah pengalihan untuk meredakan ketegangan emosi dalam diri mereka, nah mereka mungkin dapatnya lem,” ujar Temmy

Bau jenis lem tertentu, kata Temmy, bersifat sebagai depressant karena mengandung zat bersifat sedatif dan stimulan yang bisa menekan fungsi syarat pusat.

“Si pengguna akhirnya merasa terbang, merasa ada khayalan-khayalan yang dipicu oleh sistem otaknya yang menyebabkan si pengguna merasakan adanya kenikmatan-kenikmatan tertentu,” ungkap alumnus Universitas Negeri Makassar (UNM) Tahun 2010 ini.

Bagi Temmy, para korban lem ini bisa diobati lewat terapi, termasuk dari orang tua mereka. Harapannya, dengan melibatkan orang tua, mereka bisa ikut membantu proses rehabilitasi dan pemulihan para siswa di rumah.

“Untuk rehabilitasinya kami percayakan kepada teman-teman BNN. Selain itu juga, kami akan mengkondisikan, melatih memberikan keterampilan berupa penguasaan tertentu kepada orang tua korban. Terapi di BNN ‘kan paling sekitaran 1 atau 2 jam. Nah, selebihnya korban berada di rumah, sekolah dan lingkungan sekitarnya,” tambahnya lagi.

Temmy pun berpesan kepada seluruh netizen dan masyarakat agar berhenti melalukan bully (perundungan) terhadap korban.

“Mereka harusnya dirangkul jangan di bully, karena ini dapat berpengaruh pada pemikiran mereka soal identitas mereka dan juga rasa percaya diri,” himbaunya.(ika)